Selasa, 27 Mei 2014

Aku Adalah Bagian Yang Terlupakan



Seumur hidupku, perempuan itu akan terus menjadi hal yang menarik untuk aku perhatikan. Aku sangat  hafal bagaimana dia tersenyum, menangis. Dan aku sangat hafal bagaimana sifat baik dan buruknya berjalan beriringan. Jika ada yang mengatakan, merekalah yang paling mengenal perempuan itu, mereka salah. Akulah yang paling mengenalnya. Seumur hidupnya, aku tetap yang paling, sangat mengenalnya.


Bahagiaku adalah ketika melihat perempuan itu tersenyum, tertawa, segala hal yang berhubungan dengan kebahagiaannya. Ada perasaan tenang jika perempuan itu dekat dengan kebahagiaan. Dan aku benci ketika kesedihan mendekat dan menghampiri perempuan itu. Dia menangis, bersedih, menjadi pemurung, bagian yang tak pernah ku sukai. Aku ingin menamparnya ketika  dia seperti itu. Tidakkah dia sadar, dunia terlalu singkat untuk di nikmati hanya dengan kesedihan. Perempuan bodoh.


8 tahun terakhir, aku mulai benci memperhatikannya. Tak jarang aku mendapati dia sedang menangis di hadapanku. Perempuan itu tak sekuat yang ku bayangkan. Ketika dia mulai mengenal rasa, segalanya berubah. Senyuman, canda, tawa, yang sering ku lihat, kini tak sesering dulu. Aku masih ingat, bagaimana kesedihannya membuatku sangat ingin menamparnya dengan keras.


Malam itu, kesedihannya terpancar jelas dari raut wajahnya. Dia tak pernah berhenti mencari-cari kesalahannya, mengumpat dirinya sendiri. Apa itu tidak menyakitkan untuk dirinya sendiri? Ketika lelakinya tak memberi kabar atau menghilang tanpa sepatah kata, dia selalu seperti itu. Dan aku benci. Aku memperhatikan bagaimana dia berjalan  maju, mundur di tempat yang sama. Tak jarang, air matanya mengalir tanpa dia sadari.


Perempuan itu menangis sejadi-jadinya, tiba-tiba tertawa dengan lepasnya seolah-olah ada hal lucu yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Perempuan gila. Hanya karena lelakinya tak berkabar pada dirinya, dia seperti perempuan yang terlahir tanpa pikiran. Miris rasanya. Bagaimana bisa, cinta mampu membuat orang yang merasakannya melakukan hal-hal gila di luar logika manusia itu sendiri?


Aku dapat melihat, bagaimana kekosongan terpancar jelas dari kedua mata perempuan itu,  seperti tak ada kehidupan di sana. Pikirannya melayang, entah kepenjuru mana ia melayang. Aku muak melihatnya seperti itu. Perempuan yang ternyata aku sayangi sejak kedua mata ini melihatnya. Aku ingin membuatnya percaya, bahwa dia terlalu berharga untuk menangisi hal-hal yang tak penting, seperti lelakinya. Lelaki yang di tangisi berjam-jam lamanya.


Aku berusaha mendekatinya, berharap dia tak berpaling dariku. Semakin aku  mendekat, semakin kesedihan mengerogoti diriku sendiri karena melihatnya seperti perempuan ber raga tanpa jiwa.


“Sayang, kau terlalu berharga untuk menangisi lelaki yang bahkan tidak memikirkanmu sama sekali. Lelaki yang sering menyepelekan kehadiranmu untuknya. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk mencari kesalahanmu, mengapa  dia seperti itu. Kau benar dan akan selalu benar, lelakimulah yang salah. Berhentilah untuk mencari yang salah, karena kau adalah kebenaran. Kau harus ingat, kau tidak bisa menahan nya untuk tetap tinggal. Biarkan ia pergi, lalu kau berbahagialah dengan pilihannya karena meninggalkan perempuan yang tulus mencintainya. Percayalah, Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Kau ingat bukan, setiap kepergian pasti akan selalu ada kedatangan?”


Perempuan itu hanya menatapku tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya. Entah itu membuatnya sadar atau  semakin terpuruk. Atau mungkin menyalahkan aku  karena begitu mudah mengatakan hal-hal yang sudah jelas sangat sulit untuk dia lakukan.




Ya… di situlah tempatku. Di hadapannya ketika dia bercermin. Akulah logika yang tak pernah di dengar, sekalipun aku berteriak sekencang-kencangnya. Akulah logika yang tak berfungsi ketika dia merasakan rasa yang di sebut cinta.