Seumur hidupku, perempuan
itu akan terus menjadi hal yang menarik untuk aku perhatikan. Aku sangat hafal bagaimana dia tersenyum, menangis. Dan aku
sangat hafal bagaimana sifat baik dan buruknya berjalan beriringan. Jika ada
yang mengatakan, merekalah yang paling mengenal perempuan itu, mereka salah.
Akulah yang paling mengenalnya. Seumur hidupnya, aku tetap yang paling, sangat
mengenalnya.
Bahagiaku adalah ketika
melihat perempuan itu tersenyum, tertawa, segala hal yang berhubungan dengan
kebahagiaannya. Ada perasaan tenang jika perempuan itu dekat dengan
kebahagiaan. Dan aku benci ketika kesedihan mendekat dan menghampiri perempuan
itu. Dia menangis, bersedih, menjadi pemurung, bagian yang tak pernah ku sukai.
Aku ingin menamparnya ketika dia seperti
itu. Tidakkah dia sadar, dunia terlalu singkat untuk di nikmati hanya dengan
kesedihan. Perempuan bodoh.
8 tahun terakhir, aku
mulai benci memperhatikannya. Tak jarang aku mendapati dia sedang menangis di
hadapanku. Perempuan itu tak sekuat yang ku bayangkan. Ketika dia mulai
mengenal rasa, segalanya berubah. Senyuman, canda, tawa, yang sering ku lihat,
kini tak sesering dulu. Aku masih ingat, bagaimana kesedihannya membuatku
sangat ingin menamparnya dengan keras.
Malam itu, kesedihannya
terpancar jelas dari raut wajahnya. Dia tak pernah berhenti mencari-cari kesalahannya,
mengumpat dirinya sendiri. Apa itu tidak menyakitkan untuk dirinya sendiri?
Ketika lelakinya tak memberi kabar atau menghilang tanpa sepatah kata, dia
selalu seperti itu. Dan aku benci. Aku memperhatikan bagaimana dia berjalan maju, mundur di tempat yang sama. Tak jarang,
air matanya mengalir tanpa dia sadari.
Perempuan itu menangis
sejadi-jadinya, tiba-tiba tertawa dengan lepasnya seolah-olah ada hal lucu yang
membuatnya tertawa terbahak-bahak. Perempuan gila. Hanya karena lelakinya tak
berkabar pada dirinya, dia seperti perempuan yang terlahir tanpa pikiran. Miris
rasanya. Bagaimana bisa, cinta mampu membuat orang yang merasakannya melakukan
hal-hal gila di luar logika manusia itu sendiri?
Aku dapat melihat,
bagaimana kekosongan terpancar jelas dari kedua mata perempuan itu, seperti tak ada kehidupan di sana. Pikirannya
melayang, entah kepenjuru mana ia melayang. Aku muak melihatnya seperti itu.
Perempuan yang ternyata aku sayangi sejak kedua mata ini melihatnya. Aku ingin
membuatnya percaya, bahwa dia terlalu berharga untuk menangisi hal-hal yang tak
penting, seperti lelakinya. Lelaki yang di tangisi berjam-jam lamanya.
Aku berusaha
mendekatinya, berharap dia tak berpaling dariku. Semakin aku mendekat, semakin kesedihan mengerogoti diriku
sendiri karena melihatnya seperti perempuan ber raga tanpa jiwa.
“Sayang,
kau terlalu berharga untuk menangisi lelaki yang bahkan tidak memikirkanmu sama
sekali. Lelaki yang sering menyepelekan kehadiranmu untuknya. Jangan
menghabiskan banyak waktu untuk mencari kesalahanmu, mengapa dia seperti itu. Kau benar dan akan selalu
benar, lelakimulah yang salah. Berhentilah untuk mencari yang salah, karena kau
adalah kebenaran. Kau harus ingat, kau tidak bisa menahan nya untuk tetap
tinggal. Biarkan ia pergi, lalu kau berbahagialah dengan pilihannya karena
meninggalkan perempuan yang tulus mencintainya. Percayalah, Tuhan telah
mempersiapkan yang terbaik untukmu. Kau ingat bukan, setiap kepergian pasti
akan selalu ada kedatangan?”
Perempuan itu hanya
menatapku tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya. Entah itu membuatnya sadar
atau semakin terpuruk. Atau mungkin menyalahkan
aku karena begitu mudah mengatakan
hal-hal yang sudah jelas sangat sulit untuk dia lakukan.
Ya… di situlah
tempatku. Di hadapannya ketika dia bercermin. Akulah logika yang tak pernah di
dengar, sekalipun aku berteriak sekencang-kencangnya. Akulah logika yang tak
berfungsi ketika dia merasakan rasa yang di sebut cinta.