Jumat, 02 Januari 2015

2015

Tak perlu tersenyum lebar untuk menyembunyikan betapa terlukanya engkau. Aku mengenalmu lebih dari siapapun yang mengenalmu.

Aku sangat hafal bagaimana ekspresi wajahmu ketika bahagia.
Aku sangat hafal bagaimana ekspresi wajahmu ketika sedih.
Aku sangat hafal bagaimana ekspresi wajahmu ketika marah.
Dan ekspresi-ekspresi lain diwajahmu.

Aku tahu kau terluka. Aku tahu betapa dalam ia menciptakan luka yang pada akhirnya kekal;dihatimu. Tapi aku percaya, pada akhirnya juga kau mampu menyembuhkan luka itu, walau membutuhkan waktu yang panjang.

Aku melihatmu jauh lebih baik, jauh lebih bahagia, jauh lebih tegar, dan jauh lebih ikhlas dari sebelumnya. Aku bahagia melihatmu yang sekarang. Lebih banyak senyuman dibandingkan kesedihan disana, diwajahmu. Tempat segala isi hatimu berbicara. Sungguh, aku sangat bahagia melihatmu yang sekarang. Tetaplah seperti ini, penuh kebahagian bukan kesedihan. Penuh canda tawa bukan kemurungan.

Teruslah tersenyum. Bersyukurlah atas hal-hal kecil maupun besar. Ketahuilah, bahwa kebahagian bisa datang darimana saja jika kita pandai bersyukur. Sampaikan terima kasihku pada hatimu, yang akhirnya mau mendengar segala saranku bagaimana caranya untuk berbahagia.

Terima kasih telah mencoba mendengarkanku, logikamu. :)

Minggu, 19 Oktober 2014

Pukul 17:50

Ada kebahagian yang lahir dari sebuah senja, tepat pukul 17:50 di pantai kotaku.
Ada seorang yang duduk disampingku saat senja, tepat pukul 17:50 di pantai kotaku.
Ada tangan yang saling menggenggam saat senja, tepat pukul 17:50 di pantai kotaku.
Ada tawa yang mengembang saat senja, tepat pukul 17:50 di pantai kotaku.
Ada rindu yang terobat oleh pertemuan saat senja, tepat pukul 17:50 di pantai kotaku.
Ada rasa yang sedikit pudar selama bertahun-tahun saat senja, tepat pukul 17:50 di pantai kotaku.
Pukul 17:50 segalanya harus usai saat senja, tepat di pantai kotaku.
Biarkan senja pukul 17:50 di pantai kotaku, menjadi tempat yang menyimpan segala rahasia 2 anak manusia yang bertemu lalu memutuskan berpisah.

Jumat, 17 Oktober 2014

Dia (mungkin) Sudah Dewasa

Aku menyayanginya melebihi apapun.
Aku berusaha keras untuk membahagiakan dia kelak. Berusaha keras untuk selalu membuat dia tersenyum bahagia bagaimanapun caranya dan sekalipun hatinya hancur berkeping-keping. Aku melindunginya agar tak ada yang berani menyakiti dan melukainya.

Dulu, disaat kami belum mengenal apa arti mencintai dan dicintai, melukai dan dilukai, mengkhianati dan dikhianati, mendua dan diduakan, semua begitu indah. Sangat indah. Yang kami lakukan hanya tertawa, bermain, merajuk jika mama tidak membelikan kami permen karena takut gigi kami berlubang. Semuanya begitu indah. Dimasa itu banyak meninggalkan kenangan. Kenangan yang hingga detik ini masih tersimpan dengan rapih dimemori otak terkecilku. Kenangan yang tak bisa aku lupakan adalah ketika menyeretnya dari atas pohon kebawah. Dagunya mengeluarkan darah yang bila dilihat, darahnya mengalir seperti air. Tidak, aku tidak pernah berniat melukainya, sedikitpun. Semua itu terjadi karena kami bercanda melampaui batas. Terlalu bahagia dan bersemangat. Dia menangis tanpa henti sambil memegang dagunya yang berdarah, aku menangis menyesal karena melakukan hal yang paling jahat kepadanya. Tidak ada yang menolong kami, hanya kami berdua. Mungkin karena orang-orang sedang asik terlelap dalam mimpi disiang bolong. Ya, kejadian itu terjadi tepat siang hari ditahun 2005. Lihatlah, sampai tahunnya saja masih ku ingat dengan jelas. Kami berdua menangis sepanjang perjalanan pulang. Sesampai dirumah, mama terkejut melihat  darah yang mengalir deras dari dagunya. Mengambil kotak P3K, lalu bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku menceritakan detail kejadian. Dan akhirnya, marah besar mama kepadaku yang kudapat selama berjam-jam. Aku hanya mengutuk diriku sendiri dalam hati. Tapi apalah kami, dia tidak membenciku sama sekali. Mungkin karena dulu kami belum mengenal arti membenci dan dibenci. Dulu, semua begitu menyenangkan. Ketika rasa belum mengetuk hati kami masing-masing.

Tahun demi tahun berganti. Kami beranjak dewasa. Rasa itu telah datang mengetuk pintu hati kami. Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing. Sudah tak pernah lagi merasakan bagaimana rasanya bermain seperti dulu. Bercanda atau sekedar bercengkrama. Dia sibuk dengan dunianya dan aku juga sibuk dengan duniaku. Aku terkadang mengutuk waktu yang berjalan dengan amat cepat. Aku merindukan masa itu.

Belakangan ini kami sering bertengkar tentang masalah pribadinya. Tentang dunia yang dia jalani. Dia masih beranjak dewasa untuk tahu apa arti sesungguhnya tentang dunia ini. Masih beranjak. Aku menasehatinya agar lebih menurut pada petuah-petuah mama dan ayah. Dilain kesempatan, dia mengiyakan segala nasehat kami seperti masa yang aku rindukan. Dilain kesempatan, dia seperti kuda yang lepas dari kandangnya. Perpegang teguh dengan pemikirannya yang jelas-jelas salah.

"Kamu terlalu sibuk dengan urusanku. Urus aja urusan mu sendiri. Jangan banyak ikut campur dengan urusanku. Memangnya kamu sudah cukup baik untuk nasehati aku!"

Bagaimana mungkin, adik yang sangat aku sayangi berkata seperti itu. Entah ini kelilipan atau apa, tiba-tiba saja airmataku turun dengan sendirinya. Ada yang seketika menancap tajam didalam tubuhku. Ada kesedihan yang begitu mendung dikedua mataku.

Dimana letak salahnya, ketika aku berusaha 'sedikit' mencampuri urusan pribadi adikku sendiri?

Aku hanya ingin mengingatkan, mana yang baik dan buruk, mana yang semu dan nyata. Aku hanya ingin mengajarinya bagaimana cara menghadapinya dengan benar. Karena aku pernah mengalaminya, lebih dulu daripada dia. Aku hanya ingin menjadi tempat keluh kesahnya ketika apa-apa yang dia harapkan tidak sesuai rencana dan impiannya. Aku hanya ingin selalu ada ketika dia menangisi orang-orang atau mungkin hal-hal yang tak baik dan tak penting baginya. Aku hanya ingin selalu ada untuknya disaat apapun dan dalam keadaan apapun.

Mungkin caraku yang salah menghadapi dia. Aku masih memperlakukan dia seperti dia di 15 tahun yang silam sedang dia jelas-jelas telah berusia 17tahun. Dan aku yang masih menganggap dia seperti dia di 15 tahun yang silam sedang dia jelas-jelas telah berusia 17tahun. Aku yang lupa bahwa dia (mungkin) sudah dewasa.

Selasa, 14 Oktober 2014

Penakut

Mereka bilang, 'jika kamu menyukai seseorang jadilah pemberani untuk mengatakannya. Sebelum kamu menyesal'. Tapi apalah saya, saya hanya perempuan penakut yang masih berpikiran kuno di jaman modern ini. Ya, saya masih mengutamakan gender saya. Saya, sebagaimana perempuan  lain tentu akan sangat 'gengsi'. Sesuka apapun saya dengannya, seingin apapun saya memilikinya, memperhatikannya dari jauh saya rasa sudah cukup. Berkhayal memilikinya saya rasa juga cukup. Terkadang terasa lebih baik, namun tak jarang terasa begitu menyakitkan. Dimimpi, dia milik saya. Di kehidupan nyata, saya orang asing bagi dia. Miris? Tentu saja tidak. Saya yang terlalu penakut untuk menunjukan bahwa saya menyukainya. Saya yang terlalu penakut untuk mengungkapkan apa yang saya rasa terhadap dia. Saya yang terlalu penakut untuk menggapai apa yang saya khayalkan karena takut terjatuh.

Bagaimana caranya menjadi pemberani seperti yang mereka katakan?

Senin, 06 Oktober 2014

Bahagiaku, kamu

Untuk setiap tawa, mungkin namamu selalu ada.
Untuk setiap doa, mungkin bahagiamu selalu ada.
Untuk setiap langkah, mungkin bayangmu selalu ada.

Bahagiaku sesederhana bagaimana aku tertawa, berdoa, maupun melangkah. Kamu, tak perlu repot-repot untuk berpikir terlalu jauh mencari cara bagaimana membuatku bahagia kembali. Karena bahagiaku, kamu. Cukup selalu ada disaat apapun dan dalam keadaan apapun, aku rasa cukup.

Rabu, 18 Juni 2014

Doa Untuk Mereka

Semoga yang masih mengenang kecewa, luka, dan hal-hal yang menggores hati, mampu berbahagia seperti yang memberi luka. :)

Selasa, 27 Mei 2014

Aku Adalah Bagian Yang Terlupakan



Seumur hidupku, perempuan itu akan terus menjadi hal yang menarik untuk aku perhatikan. Aku sangat  hafal bagaimana dia tersenyum, menangis. Dan aku sangat hafal bagaimana sifat baik dan buruknya berjalan beriringan. Jika ada yang mengatakan, merekalah yang paling mengenal perempuan itu, mereka salah. Akulah yang paling mengenalnya. Seumur hidupnya, aku tetap yang paling, sangat mengenalnya.


Bahagiaku adalah ketika melihat perempuan itu tersenyum, tertawa, segala hal yang berhubungan dengan kebahagiaannya. Ada perasaan tenang jika perempuan itu dekat dengan kebahagiaan. Dan aku benci ketika kesedihan mendekat dan menghampiri perempuan itu. Dia menangis, bersedih, menjadi pemurung, bagian yang tak pernah ku sukai. Aku ingin menamparnya ketika  dia seperti itu. Tidakkah dia sadar, dunia terlalu singkat untuk di nikmati hanya dengan kesedihan. Perempuan bodoh.


8 tahun terakhir, aku mulai benci memperhatikannya. Tak jarang aku mendapati dia sedang menangis di hadapanku. Perempuan itu tak sekuat yang ku bayangkan. Ketika dia mulai mengenal rasa, segalanya berubah. Senyuman, canda, tawa, yang sering ku lihat, kini tak sesering dulu. Aku masih ingat, bagaimana kesedihannya membuatku sangat ingin menamparnya dengan keras.


Malam itu, kesedihannya terpancar jelas dari raut wajahnya. Dia tak pernah berhenti mencari-cari kesalahannya, mengumpat dirinya sendiri. Apa itu tidak menyakitkan untuk dirinya sendiri? Ketika lelakinya tak memberi kabar atau menghilang tanpa sepatah kata, dia selalu seperti itu. Dan aku benci. Aku memperhatikan bagaimana dia berjalan  maju, mundur di tempat yang sama. Tak jarang, air matanya mengalir tanpa dia sadari.


Perempuan itu menangis sejadi-jadinya, tiba-tiba tertawa dengan lepasnya seolah-olah ada hal lucu yang membuatnya tertawa terbahak-bahak. Perempuan gila. Hanya karena lelakinya tak berkabar pada dirinya, dia seperti perempuan yang terlahir tanpa pikiran. Miris rasanya. Bagaimana bisa, cinta mampu membuat orang yang merasakannya melakukan hal-hal gila di luar logika manusia itu sendiri?


Aku dapat melihat, bagaimana kekosongan terpancar jelas dari kedua mata perempuan itu,  seperti tak ada kehidupan di sana. Pikirannya melayang, entah kepenjuru mana ia melayang. Aku muak melihatnya seperti itu. Perempuan yang ternyata aku sayangi sejak kedua mata ini melihatnya. Aku ingin membuatnya percaya, bahwa dia terlalu berharga untuk menangisi hal-hal yang tak penting, seperti lelakinya. Lelaki yang di tangisi berjam-jam lamanya.


Aku berusaha mendekatinya, berharap dia tak berpaling dariku. Semakin aku  mendekat, semakin kesedihan mengerogoti diriku sendiri karena melihatnya seperti perempuan ber raga tanpa jiwa.


“Sayang, kau terlalu berharga untuk menangisi lelaki yang bahkan tidak memikirkanmu sama sekali. Lelaki yang sering menyepelekan kehadiranmu untuknya. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk mencari kesalahanmu, mengapa  dia seperti itu. Kau benar dan akan selalu benar, lelakimulah yang salah. Berhentilah untuk mencari yang salah, karena kau adalah kebenaran. Kau harus ingat, kau tidak bisa menahan nya untuk tetap tinggal. Biarkan ia pergi, lalu kau berbahagialah dengan pilihannya karena meninggalkan perempuan yang tulus mencintainya. Percayalah, Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Kau ingat bukan, setiap kepergian pasti akan selalu ada kedatangan?”


Perempuan itu hanya menatapku tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya. Entah itu membuatnya sadar atau  semakin terpuruk. Atau mungkin menyalahkan aku  karena begitu mudah mengatakan hal-hal yang sudah jelas sangat sulit untuk dia lakukan.




Ya… di situlah tempatku. Di hadapannya ketika dia bercermin. Akulah logika yang tak pernah di dengar, sekalipun aku berteriak sekencang-kencangnya. Akulah logika yang tak berfungsi ketika dia merasakan rasa yang di sebut cinta.