Jumat, 17 Oktober 2014

Dia (mungkin) Sudah Dewasa

Aku menyayanginya melebihi apapun.
Aku berusaha keras untuk membahagiakan dia kelak. Berusaha keras untuk selalu membuat dia tersenyum bahagia bagaimanapun caranya dan sekalipun hatinya hancur berkeping-keping. Aku melindunginya agar tak ada yang berani menyakiti dan melukainya.

Dulu, disaat kami belum mengenal apa arti mencintai dan dicintai, melukai dan dilukai, mengkhianati dan dikhianati, mendua dan diduakan, semua begitu indah. Sangat indah. Yang kami lakukan hanya tertawa, bermain, merajuk jika mama tidak membelikan kami permen karena takut gigi kami berlubang. Semuanya begitu indah. Dimasa itu banyak meninggalkan kenangan. Kenangan yang hingga detik ini masih tersimpan dengan rapih dimemori otak terkecilku. Kenangan yang tak bisa aku lupakan adalah ketika menyeretnya dari atas pohon kebawah. Dagunya mengeluarkan darah yang bila dilihat, darahnya mengalir seperti air. Tidak, aku tidak pernah berniat melukainya, sedikitpun. Semua itu terjadi karena kami bercanda melampaui batas. Terlalu bahagia dan bersemangat. Dia menangis tanpa henti sambil memegang dagunya yang berdarah, aku menangis menyesal karena melakukan hal yang paling jahat kepadanya. Tidak ada yang menolong kami, hanya kami berdua. Mungkin karena orang-orang sedang asik terlelap dalam mimpi disiang bolong. Ya, kejadian itu terjadi tepat siang hari ditahun 2005. Lihatlah, sampai tahunnya saja masih ku ingat dengan jelas. Kami berdua menangis sepanjang perjalanan pulang. Sesampai dirumah, mama terkejut melihat  darah yang mengalir deras dari dagunya. Mengambil kotak P3K, lalu bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku menceritakan detail kejadian. Dan akhirnya, marah besar mama kepadaku yang kudapat selama berjam-jam. Aku hanya mengutuk diriku sendiri dalam hati. Tapi apalah kami, dia tidak membenciku sama sekali. Mungkin karena dulu kami belum mengenal arti membenci dan dibenci. Dulu, semua begitu menyenangkan. Ketika rasa belum mengetuk hati kami masing-masing.

Tahun demi tahun berganti. Kami beranjak dewasa. Rasa itu telah datang mengetuk pintu hati kami. Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing. Sudah tak pernah lagi merasakan bagaimana rasanya bermain seperti dulu. Bercanda atau sekedar bercengkrama. Dia sibuk dengan dunianya dan aku juga sibuk dengan duniaku. Aku terkadang mengutuk waktu yang berjalan dengan amat cepat. Aku merindukan masa itu.

Belakangan ini kami sering bertengkar tentang masalah pribadinya. Tentang dunia yang dia jalani. Dia masih beranjak dewasa untuk tahu apa arti sesungguhnya tentang dunia ini. Masih beranjak. Aku menasehatinya agar lebih menurut pada petuah-petuah mama dan ayah. Dilain kesempatan, dia mengiyakan segala nasehat kami seperti masa yang aku rindukan. Dilain kesempatan, dia seperti kuda yang lepas dari kandangnya. Perpegang teguh dengan pemikirannya yang jelas-jelas salah.

"Kamu terlalu sibuk dengan urusanku. Urus aja urusan mu sendiri. Jangan banyak ikut campur dengan urusanku. Memangnya kamu sudah cukup baik untuk nasehati aku!"

Bagaimana mungkin, adik yang sangat aku sayangi berkata seperti itu. Entah ini kelilipan atau apa, tiba-tiba saja airmataku turun dengan sendirinya. Ada yang seketika menancap tajam didalam tubuhku. Ada kesedihan yang begitu mendung dikedua mataku.

Dimana letak salahnya, ketika aku berusaha 'sedikit' mencampuri urusan pribadi adikku sendiri?

Aku hanya ingin mengingatkan, mana yang baik dan buruk, mana yang semu dan nyata. Aku hanya ingin mengajarinya bagaimana cara menghadapinya dengan benar. Karena aku pernah mengalaminya, lebih dulu daripada dia. Aku hanya ingin menjadi tempat keluh kesahnya ketika apa-apa yang dia harapkan tidak sesuai rencana dan impiannya. Aku hanya ingin selalu ada ketika dia menangisi orang-orang atau mungkin hal-hal yang tak baik dan tak penting baginya. Aku hanya ingin selalu ada untuknya disaat apapun dan dalam keadaan apapun.

Mungkin caraku yang salah menghadapi dia. Aku masih memperlakukan dia seperti dia di 15 tahun yang silam sedang dia jelas-jelas telah berusia 17tahun. Dan aku yang masih menganggap dia seperti dia di 15 tahun yang silam sedang dia jelas-jelas telah berusia 17tahun. Aku yang lupa bahwa dia (mungkin) sudah dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar