Senin, 31 Maret 2014

Aku Awanmu



Surat Untuk Mantan…

                Aku bahkan tak tahu, mengapa harus ku tulis sebuah surat untukmu, masa lalu. Bukankah, apa-apa yang sudah lalu harusnya dilupakan? Entahlah, mungkin karena kau adalah pengecualianku.
            Terlalu banyak kenangan indah saat aku bersamamu, namun tidak sedikit juga kenangan pahit yang tersimpan rapih dihatiku.
            Harus dari mana aku bercerita? Manis atau pahit? Ah sudahlah, mungkin kau tak akan ingat kenangan-kenangan kita. Kau terlalu acuh padaku, pada ‘Kita’ yang dulu aku banggakan. Akan ku ingatkan kau mulai dari yang manis dan berakhir dengan yang pahit. Mengapa? Agar kau merasa sedikit menyesal karena kehilangan aku, wanita tulus yang terkadang kau sebut ‘Wanita Bodoh’ karena terlalu mencintaimu.
            Ingatkah kau, sayang. Saat kau memberikanku kejutan ulangtahun ku yang ke-18? Saat itu hujan sedang turun lebat di kota kita. Tapi kau tak peduli dengan hujan yang coba menghalangimu, memaksamu untuk tinggal dikamar, diranjang yang selalu memanjakanmu dengan keterlambatan dan kemalasan. Kau basah kuyup, kau mengigil malam itu, dan aku terharu. Dan ingatkah kau, saat motormu kehabisan bensin? Saat itu pukul 21:30, dijalan yang mulai sepi dengan kecemasanmu dan ketakutanku. Kecemasaanmu, yang belum juga mengantarku pulang. Dan ketakutanku, yang takut terjadi hal-hal buruk pada kita berdua. Kita mendorong motor maticmu hingga ujung jalan. Dan ternyata, Tuhan masih melindungi kita, diujung jalan sana ada tukang bensin eceran yang ternyata memperhatikan kita dari jauh. Hehehe. Aku hanya tersenyum saat melihat wajah legamu, akupun berdoa dalam hati yang paling dalam. “Tuhan, aku ingin seperti ini dengan lelaki ini. Aku ingin ada kebahagian diujung perjuangan cinta kami. Semoga tak pernah sia-sia. Amin.” Dan akan kuingatkan kau kenangan terakhir kita yang tak pernah bisa aku lupakan. Saat kau mengajakku ke pantai, disana kau berjanji tak akan meninggalkanku, akan membangun masa depan denganku, dan segala hal-hal baik di masa depan aku dan kamu, yang kau sebut “Kita”. Apa kau sudah ingat, sayang? Apa kau mulai tertawa sendiri saat mengingat itu semua? Oh, satu lagi. Kau pernah berkata, “Sebaik dan seburuk apapun kamu, perlihatkan padaku. Agar aku mengerti, agar aku paham, bagaimana cara menghadapi seorang bidadari. J”. Ah, kata-kata yang selalu berhasil membuatku tersenyum malu.
            Mengapa semua menjadi berbeda, kau berubah. Mengabaikanku, meninggalkanku tanpa kabar, tak ada saat aku membutuhkanmu. Kemana kau?
            Apa kau tak pernah ditampar oleh kenyataan, sayang? Atau mungkin belum? Kau tahu rasanya seperti apa? Sakit, sangat sakit. Dadamu akan sesak, tak ada oksigen untukmu bernapas, perih! Sakit saat aku melihatmu bergandengan tangan dengan wanita itu, wanita yang ternyata sahabat baikku. Mengecup keningnya didepan umum. Aku muak! Aku benci KAU! Mengapa dengan teganya kau melakukan itu padaku? Wanita yang hampir 3 tahun menemanimu dalam suka maupun duka. Wanita yang mencintai kekurangan dan kelebihanmu tanpa embel-embel “Ada apanya” kau! MENGAPA!??
            Dan aku masih sangat ingat dengan jawabanmu, sayang. “Aku bosan denganmu. Wanita yang selalu memprotekku tak boleh ini, tak boleh itu. Sedang dimana, dengan siapa. Aku muak! Aku bukan ANAK KECIL! KAU TAHU!!” begitu bukan yang kau ucapkan? Tolong tambahkan lagi jika aku melupakan beberapa kata. Hehehe.
            Setelah semua berakhir, aku terpuruk sangat terpuruk. Tidakkah kau tahu? Ah, aku lupa. Kau tak pernah peduli dengan keadaanku. Aku mencoba melupakanmu, namun tak berhasil. Semakin aku mencoba, semakin aku gagal. Entahlah, mungkin karena cintaku terlalu besar dan tanpa syarat padamu.
            Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Aku disibukan oleh pekerjaanku. Dan kau lihat? Aku bisa melupakanmu. Dan apa kau tahu? Hatiku sudah terbuka kembali, membolehkan cinta-cinta yang baru masuk dan tinggal. Aku bertemu dengan lelaki yang sekarang menjadi kekasihku. Dia sangat mencintaiku dan aku mencintainya. Aku bahagia, sangat bahagia. Hey, aku jadi ingat. Ada sebuah kalimat yang aku tak tahu siapa penulisnya. Dan kalimat itu seperti kamu, begini. “Ada orang-orang yang seperti awan. Saat mereka menghilang, langit kembali cerah.”
            Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu. Masa lalu dengan pelajaran yang sangat berharga. Kepergianmu mengajarkanku banyak hal. Mulai dari sabar, ikhlas, tawakal, tegar, menjadi kuat. Aku berterima kasih atas itu. Tapi aku juga tak lupa mengucapkan terima kasih untuk kedatanganmu. Aku hanya tak ingin menjadi seorang yang takabur, lupa diri. Seburuk apapun perlakuanmu dulu terhadapku, setidaknya kau pernah membuatku bahagia, tersenyum, menangis bahagia, bangga, mengerti arti mencintai. Sekali lagi, terima kasih atas segala pelajarannya.
            Entah harus ku simpulakan apa dirimu. Mantan terindah atau terburuk? “Terburuk?” Mungkin saat kau membacanya, saat itu dahimu mengkerut dan matamu sedikit membesar. Hehehe, maaf-maaf. Aku hanya tak tahu lawan kata indah. 
            Aku harap, saat ini kau sedang berbahagia sepertiku.
            Aku harap, kau tak lagi menjadi awan dikehidupan orang lain. 
            Teruslah berbahagia.

                                                                   Dariku, wanita awanmu.
 Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara.