Surat Untuk Mantan…
Aku bahkan tak
tahu, mengapa harus ku tulis sebuah surat untukmu, masa lalu. Bukankah, apa-apa
yang sudah lalu harusnya dilupakan? Entahlah, mungkin karena kau adalah
pengecualianku.
Terlalu banyak kenangan indah saat
aku bersamamu, namun tidak sedikit juga kenangan pahit yang tersimpan rapih
dihatiku.
Harus dari mana aku bercerita? Manis
atau pahit? Ah sudahlah, mungkin kau tak akan ingat kenangan-kenangan kita. Kau
terlalu acuh padaku, pada ‘Kita’ yang dulu aku banggakan. Akan ku ingatkan kau
mulai dari yang manis dan berakhir dengan yang pahit. Mengapa? Agar kau merasa
sedikit menyesal karena kehilangan aku, wanita tulus yang terkadang kau sebut
‘Wanita Bodoh’ karena terlalu mencintaimu.
Ingatkah kau, sayang. Saat kau
memberikanku kejutan ulangtahun ku yang ke-18? Saat itu hujan sedang turun
lebat di kota kita. Tapi kau tak peduli dengan hujan yang coba menghalangimu,
memaksamu untuk tinggal dikamar, diranjang yang selalu memanjakanmu dengan
keterlambatan dan kemalasan. Kau basah kuyup, kau mengigil malam itu, dan aku
terharu. Dan ingatkah kau, saat motormu kehabisan bensin? Saat itu pukul 21:30,
dijalan yang mulai sepi dengan kecemasanmu dan ketakutanku. Kecemasaanmu, yang
belum juga mengantarku pulang. Dan ketakutanku, yang takut terjadi hal-hal
buruk pada kita berdua. Kita mendorong motor maticmu hingga ujung jalan. Dan
ternyata, Tuhan masih melindungi kita, diujung jalan sana ada tukang bensin
eceran yang ternyata memperhatikan kita dari jauh. Hehehe. Aku hanya tersenyum
saat melihat wajah legamu, akupun berdoa dalam hati yang paling dalam. “Tuhan,
aku ingin seperti ini dengan lelaki ini. Aku ingin ada kebahagian diujung
perjuangan cinta kami. Semoga tak pernah sia-sia. Amin.” Dan akan kuingatkan
kau kenangan terakhir kita yang tak pernah bisa aku lupakan. Saat kau
mengajakku ke pantai, disana kau berjanji tak akan meninggalkanku, akan
membangun masa depan denganku, dan segala hal-hal baik di masa depan aku dan
kamu, yang kau sebut “Kita”. Apa kau sudah ingat, sayang? Apa kau mulai tertawa
sendiri saat mengingat itu semua? Oh, satu lagi. Kau pernah berkata, “Sebaik
dan seburuk apapun kamu, perlihatkan padaku. Agar aku mengerti, agar aku paham,
bagaimana cara menghadapi seorang bidadari. J”.
Ah, kata-kata yang selalu berhasil membuatku tersenyum malu.
Mengapa semua menjadi berbeda, kau
berubah. Mengabaikanku, meninggalkanku tanpa kabar, tak ada saat aku
membutuhkanmu. Kemana kau?
Apa kau tak pernah ditampar oleh
kenyataan, sayang? Atau mungkin belum? Kau tahu rasanya seperti apa? Sakit, sangat
sakit. Dadamu akan sesak, tak ada oksigen untukmu bernapas, perih! Sakit saat
aku melihatmu bergandengan tangan dengan wanita itu, wanita yang ternyata
sahabat baikku. Mengecup keningnya didepan umum. Aku muak! Aku benci KAU!
Mengapa dengan teganya kau melakukan itu padaku? Wanita yang hampir 3 tahun
menemanimu dalam suka maupun duka. Wanita yang mencintai kekurangan dan
kelebihanmu tanpa embel-embel “Ada apanya” kau! MENGAPA!??
Dan aku masih sangat ingat dengan
jawabanmu, sayang. “Aku bosan denganmu. Wanita yang selalu memprotekku tak
boleh ini, tak boleh itu. Sedang dimana, dengan siapa. Aku muak! Aku bukan ANAK
KECIL! KAU TAHU!!” begitu bukan yang kau ucapkan? Tolong tambahkan lagi jika
aku melupakan beberapa kata. Hehehe.
Setelah semua berakhir, aku terpuruk
sangat terpuruk. Tidakkah kau tahu? Ah, aku lupa. Kau tak pernah peduli dengan
keadaanku. Aku mencoba melupakanmu, namun tak berhasil. Semakin aku mencoba,
semakin aku gagal. Entahlah, mungkin karena cintaku terlalu besar dan tanpa
syarat padamu.
Hari demi hari, bulan demi bulan,
tahun demi tahun. Aku disibukan oleh pekerjaanku. Dan kau lihat? Aku bisa
melupakanmu. Dan apa kau tahu? Hatiku sudah terbuka kembali, membolehkan
cinta-cinta yang baru masuk dan tinggal. Aku bertemu dengan lelaki yang
sekarang menjadi kekasihku. Dia sangat mencintaiku dan aku mencintainya. Aku
bahagia, sangat bahagia. Hey, aku jadi ingat. Ada sebuah kalimat yang aku tak
tahu siapa penulisnya. Dan kalimat itu seperti kamu, begini. “Ada orang-orang yang seperti awan. Saat
mereka menghilang, langit kembali cerah.”
Aku hanya ingin mengucapkan terima
kasih padamu. Masa lalu dengan pelajaran yang sangat berharga. Kepergianmu
mengajarkanku banyak hal. Mulai dari sabar, ikhlas, tawakal, tegar, menjadi
kuat. Aku berterima kasih atas itu. Tapi aku juga tak lupa mengucapkan terima
kasih untuk kedatanganmu. Aku hanya tak ingin menjadi seorang yang takabur,
lupa diri. Seburuk apapun perlakuanmu dulu terhadapku, setidaknya kau pernah
membuatku bahagia, tersenyum, menangis bahagia, bangga, mengerti arti
mencintai. Sekali lagi, terima kasih atas segala pelajarannya.
Entah harus ku simpulakan apa
dirimu. Mantan terindah atau terburuk? “Terburuk?”
Mungkin saat kau membacanya, saat itu dahimu mengkerut dan matamu sedikit
membesar. Hehehe, maaf-maaf. Aku hanya tak tahu lawan kata indah.
Aku harap, saat ini kau sedang
berbahagia sepertiku.
Aku harap, kau tak lagi menjadi awan
dikehidupan orang lain.
Teruslah berbahagia.
Dariku, wanita awanmu.
Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel
Bernard Batubara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar