Jumat, 04 April 2014

Mainanmu kah... Saya?



Saya pernah sangat bodoh karena mencintai lelaki yang menganggap saya seperti sebuah mainan.
Ketika ia sedang terpuruk atau sedikit rindu pada saya, ia baru menghampiri saya. Memanjakan saya dengan kenangan-kenangan indah yang ia ciptakan dihidup saya. Mengucapkan kata-kata yang mampu membuat saya luluh. Saya menyukai ia yang seperti itu, saat ia sedang terpuruk, sedih, atau apapun hal buruk yang menimpanya. Tapi tidak saat kebahagiaan menghampirinya, saya benci. Kau tahu kenapa? Karena saat itu, saya diabaikan, tak dianggap, ada namun dikatakan tiada. Saya benci! Saya seperti mainan yang tak menarik saat ia tertawa dengan dunia.
Berulangkali saya katakan padanya, bahwa saya bukanlah sebuah mainan. Yang selalu ada saat ia menginginkan atau tidak menginginkan saya. Saya benci selalu ada untuknya, lelaki yang hingga detik ini masih saya cintai.
Didalam doa yang saya rapalkan disepertiga malam, saya selalu mendoakan ia dengan hal-hal buruk, meminta kemalangan selalu menimpanya. Karena dengan itu, ia datang pada saya. Karena dengan itu, ia sepenuhnya milik saya. Karena dengan itu, ia baru menyadari bahwa saya selalu ada. Wanita jahatkah saya?
Banyak orang yang mengatakan, “Asal yang dicintai bahagia, dia pun akan ikut bahagia. Walaupun ada luka yang muncul dihatinya”. Saya tak tahu, semunafik apa orang-orang itu. Saya tidak seperti mereka, saya tak ingin hanya ia yang bahagia lalu saya yang harus terluka. Saya ingin memperjuangkan yang memperjuangkan saya kembali. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saya dipertemukan, lalu jatuh cinta pada lelaki yang menganggap saya seperti mainan. Yang tidak sama sekali memperjuangkan saya. Saya benci!
Ia tak pernah menghargai kehadiran saya. Saya benar-benar tak memiliki arti apapun dimatanya. Saya pernah mencoba meninggalkannya, tapi saya gagal. Ia selalu datang dengan berbagai alasan yang saya terima. Menerimanya berkali-kali, membiarkan ia masuk dan tinggal sesuka hatinya di dalam hidup saya. Wanita bodohkah saya?  Apa mungkin ia merasa kehilangan saat saya mencoba menghilang? Bukankah kita akan menyadari arti seseorang dalam hidup kita, arti sesungguhnya, saat kita kehilangan mereka. Apa benar ia merasa kehilangan? Atau mungkin ia hanya rindu pada mainannya? Mainan yang mampu menghapus air matanya, mengukir senyumannya, membuatnya tenang saat dunia mulai membencinya.
Saya lelah, karena saya diharuskan untuk selalu mengerti ia. Saya bukan mainan. Saya juga ingin dimengerti. Didengarkan saat saya berkeluh kesan.
Mengapa tak kau hargai selagi ada? Apa saat bersama, segalanya terasa biasa saja?
Tuan, suatu saat nanti kau harus belajar, belajar menghargai cinta selagi ada. Kalau tidak, kau akan menyesal karena telah menyia-nyiakan segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar