Senin, 07 April 2014

Subuhku




Aku menyukainya (subuh). Ia pengantar kehidupan bagiku. Ia membuatku bersyukur karena Tuhan masih memberiku nyawa, masih mengizinkanku melihat pagi, siang, sore, senja, dan malam.
Apa kau mengenal senja? Senja adalah sahabat subuh. Ia begitu cantik, menawan, sangat menarik. Tak heran banyak orang yang menyukai senja, banyak wanita yang menyebut dirinya, “Wanita Pencinta Senja”. Akupun kagum pada senja, dia begitu indah dengan warna jingganya. Tuhan memang Maha Pencipta, sungguh menakjubkan segala ciptaan-Nya.
Tapi subuh, ia lebih mampu menghipnotisku. Ia mampu membuatku jatuh cinta padanya. Ia memberiku banyak ide, ia selalu menemaniku saat ide-ide yang ia berikan ku tulis diatas kertas. Ia menyapaku dengan tetesan embun yang jatuh di kolong langit.
Ia makin begitu menawan ketika lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Adzan berkumandang untuk melengkapinya. Ia mengajarkanku untuk selalu bersyukur, karena Sang Empunya hidup masih memberikanku kehidupan. Terima kasih, Tuhan.
Ia (subuh) juga mengajarkan padaku agar aku tidak menjadi wanita yang malas. Yang lebih memilih tidur dengan mimpi-mimpi indah dibanding melaksanakan dua rakaat. Ia sangat tegas padaku. Pernah beberapa kali aku mengabaikan bangunannya, saat itu aku terlalu dimanjakan oleh mimpi-mimpi indah yang memaksaku untuk tetap terlelap dan saat itu juga aku lelah karena rutinitas yang ku jalani dari pagi hingga malam. Ia marah padaku. Semenjak kejadian itu, beberapa hari kemuadia ia tak pernah bersedia membangunkanku. Membiarkan mimpi-mimpi indah menyelimutiku, kemalasan memperdayaku, dan keterlambatan menghampiriku. Aku sungguh menyesal. Tapi lihat, ia tak sejahat yang aku pikirkan, ia telah memaafkanku.
“Masih marah denganku?”
“Tidak. Aku sudah memaafkanmu.”
“Aku menyesal, maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi.”
“Aku hanya tak ingin kau menjadi wanita pemalas. Aku tidak ingin saat matahari terbit kau masih tertidur lelap. Aku tidak suka jika kau tak melaksanakan perintah Tuhan mu. Jangan jadikan kemalasan menjadi salah satu sifatmu, kerana kau akan merugi. Tak mengertikah kau? Aku membangunkanmu dengan sangat tegas dan keras karena aku menyanyangimu. Karena Tuhan mu menitipkanmu padaku, agar kau tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lebih memilih tidur daripada melaksanakan perintah-Nya. Lihat. Betapa kau begitu disayangi oleh Tuhan mu.”
Penjelasan subuh membuatku tertegun malu. Betapa tidak tahu dirinya aku sebagai ciptaan-Nya. Betapa bodohnya aku yang mengabaikan kasih sayang dan perhatian-Nya padaku. Apalah artinya aku tanpa-Nya. Ya Tuhan, ampuni khilafanku.
Kau tahu mengapa aku jatuh cinta pada subuh? Ya… karena dia tegas, membimbingku menuju jalan yang benar, memukauku dengan berbagai hal-hal yang ia miliki.
Subuhku…
Teruslah menjadi subuh yang menakjubkan bagiku.
Teruslah menjadi subuh yang selalu menemaniku hingga akhir hayat.
Teruslah menjadi subuh yang menyenangkan bagiku.
Teruslah menjadi subuhku, kesayanganku.
Dariku… Pengagummu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar