Aku menyukainya
(subuh). Ia pengantar kehidupan bagiku. Ia membuatku bersyukur karena Tuhan
masih memberiku nyawa, masih mengizinkanku melihat pagi, siang, sore, senja,
dan malam.
Apa kau mengenal
senja? Senja adalah sahabat subuh. Ia begitu cantik, menawan, sangat menarik.
Tak heran banyak orang yang menyukai senja, banyak wanita yang menyebut
dirinya, “Wanita Pencinta Senja”. Akupun kagum pada senja, dia begitu indah
dengan warna jingganya. Tuhan memang Maha Pencipta, sungguh menakjubkan segala
ciptaan-Nya.
Tapi subuh, ia lebih
mampu menghipnotisku. Ia mampu membuatku jatuh cinta padanya. Ia memberiku
banyak ide, ia selalu menemaniku saat ide-ide yang ia berikan ku tulis diatas
kertas. Ia menyapaku dengan tetesan embun yang jatuh di kolong langit.
Ia makin begitu
menawan ketika lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Adzan berkumandang untuk
melengkapinya. Ia mengajarkanku untuk selalu bersyukur, karena Sang Empunya
hidup masih memberikanku kehidupan. Terima kasih, Tuhan.
Ia (subuh) juga
mengajarkan padaku agar aku tidak menjadi wanita yang malas. Yang lebih memilih
tidur dengan mimpi-mimpi indah dibanding melaksanakan dua rakaat. Ia sangat
tegas padaku. Pernah beberapa kali aku mengabaikan bangunannya, saat itu aku
terlalu dimanjakan oleh mimpi-mimpi indah yang memaksaku untuk tetap terlelap
dan saat itu juga aku lelah karena rutinitas yang ku jalani dari pagi hingga
malam. Ia marah padaku. Semenjak kejadian itu, beberapa hari kemuadia ia tak
pernah bersedia membangunkanku. Membiarkan mimpi-mimpi indah menyelimutiku,
kemalasan memperdayaku, dan keterlambatan menghampiriku. Aku sungguh menyesal.
Tapi lihat, ia tak sejahat yang aku pikirkan, ia telah memaafkanku.
“Masih marah denganku?”
“Tidak. Aku sudah
memaafkanmu.”
“Aku menyesal,
maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi.”
“Aku hanya tak ingin
kau menjadi wanita pemalas. Aku tidak ingin saat matahari terbit kau masih
tertidur lelap. Aku tidak suka jika kau tak melaksanakan perintah Tuhan mu.
Jangan jadikan kemalasan menjadi salah satu sifatmu, kerana kau akan merugi.
Tak mengertikah kau? Aku membangunkanmu dengan sangat tegas dan keras karena
aku menyanyangimu. Karena Tuhan mu menitipkanmu padaku, agar kau tidak termasuk
dalam golongan orang-orang yang lebih memilih tidur daripada melaksanakan
perintah-Nya. Lihat. Betapa kau begitu disayangi oleh Tuhan mu.”
Penjelasan subuh
membuatku tertegun malu. Betapa tidak tahu dirinya aku sebagai ciptaan-Nya.
Betapa bodohnya aku yang mengabaikan kasih sayang dan perhatian-Nya padaku.
Apalah artinya aku tanpa-Nya. Ya Tuhan, ampuni khilafanku.
Kau tahu mengapa aku
jatuh cinta pada subuh? Ya… karena dia tegas, membimbingku menuju jalan yang
benar, memukauku dengan berbagai hal-hal yang ia miliki.
Subuhku…
Teruslah menjadi
subuh yang menakjubkan bagiku.
Teruslah menjadi
subuh yang selalu menemaniku hingga akhir hayat.
Teruslah menjadi
subuh yang menyenangkan bagiku.
Teruslah menjadi
subuhku, kesayanganku.
Dariku… Pengagummu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar