Saya sangat mencintai beliau.
Beliau mengandung saya selama 9 bulan, melahirkan saya kedunia dengan
perjuangan yang bukan main, hidup dan mati pertaruhan perjuangannya. Tidak
sampai itu, beliau membesarkan saya dengan penuh cinta, menanamkan ilmu agama sejak
dini, mengajarkan hal-hal baik yang ada dimuka bumi ini. Beliau adalah Ibu
saya. Wanita yang mulai rentan dimakan usia.
Saya anak pertama dari tiga
bersaudara. Nama saya, Subuh. Nama yang sedikit terdengar aneh, bukan? Ibu yang
memberikan nama tersebut. Katanya, “Ibu menamaimu Subuh agar kau bisa menjadi
pengantar kehidupan bagi banyak orang. Subuh yang begitu sejuk dengan tetesan
embun yang jatuh dari langit”.
Ibu sangat mencintai anak-anak
dan keluarganya. Ibu sosok wanita hebat dan kuat. Mampu menghadapi kejamnya
dunia dengan kedua tangan dan kakinya sendiri. Ibu juga sosok wanita yang
sangat mandiri, Ibu bukan wanita manja seperti kebanyakan wanita lainnya. “Jika
bisa melakukannya seorang diri, mengapa harus meminta bantuan orang lain.”
Begitulah prinsip hidup Ibu yang masih dipegang hingga detik ini.
Saat ini saya tengah duduk
dibangku SMA, masa yang banyak dikatakan orang-orang sebagai masa yang takkan
terlupakan. Mungkin benar yang dikatakan oleh banyak orang, di masa itu banyak
kenangan yang tercipta dihidup saya. Entah diciptakan oleh sahabat-sahabat
saya, mantan yang dulu sempat menjadi kekasih saya, atau musuh-musuh yang
menguras sedikit emosi saya. Ah, masa-masa yang akan saya rindukan kelak.
“Ntar mau lanjut kemana, neng?”
Suara itu berhasil mengagetkan
saya dan membangunkan saya dari lamunan. Pertanyaan itu muncul dari salah satu
sahabat saya, Yani namanya.
“Entahlah, belum tahu. Belum kepikiran
juga. Kalo kamu? Kemana?”
“Aku sih mau ngambil Universitas
diluar Bali. Yogya target utamaku” jawabnya sambil tersenyum.
Wajar saja kami membicarakan akan
lanjut kemana kami setelah kami tanggalkan seragam putih abu-abu kami. Tinggal
menghitung beberapa bulan lagi. Ya… kami anak kelas 3 yang sedang menghadapi
ujian sekolah.
Pembicaraan bersama Yani tadi
membuat saya mulai berpikir, akan lanjut kemana saya nanti? Sebentar lagi,
hanya tinggal hitungan bulan. “Bagaimana mungkin bisa keluar kota, sedang tak
ada makanan saja saya masih sering marah. Apalagi nanti, jauh dari Ibu. Apa-apa
harus sendiri” batin saya.
Jangan berpikir saya anak sholeh,
yang selalu manut pada orangtua. Saya masih sering melawan setiap perkataan Ibu dan Ayah, terutama Ibu.
Saya masih sering membohongi mereka demi kesenangan saya sendiri. Saya masih
sering membuat mereka kecewa. Saya selalu lebih keras saat beradu argument
dengan Ibu, berbicara dengan nada tinggi, melawan setiap perkataan Ibu.
Sungguh, saya masih jauh dari kata ‘Anak Sholeh’.
Beberapa bulan telah terlewat,
ujian Nasional (UN) pun sudah saya lewati. Libur panjang sudah menunggu didepan
mata. Beberapa sahabat-sahabat saya tengah sibuk mempersiapkan persyaratan-persyaratan
yang diberikan perguruan tinggi yang mereka tuju masing-masing. Dan saya? Tentu
saya masih sangat santai, saya tak ingin terlalu disibukkan dengan ini itu,
kesana kemari, saya hanya ingin menikmatinya sedikit lebih lama.
Malam itu saya bersama Ibu dan
Ayah. Kami duduk menikmati suasana malam yang cukup sejuk dengan teh hangat
yang dibuatkan Ibu.
“Ayah, Subuh ingin melanjutkan
sekolah kejenjang yang lebih tinggi” ucap saya membuka pembicaraan kami.
“Mau lanjut kemana? Di Bali atau
diluar Bali? tanya Ayah.
“Subuh belum tahu Ayah. Mungkin
akan pilih diluar kota.”
“Kamu yakin, nak?” tanya Ibu.
“InsyaAlloh Subuh yakin, Bu.
Subuh hanya ingin mandiri.”
Ibu dan Ayah hanya menatap saya.
Ada keraguan disana, dimata mereka.
Setelah pembicaraan malam itu,
saya pun mulai mencari informasi-informasi tentang beberapa perguruan tinggi
swasta yang ada diseluruh Indonesia. Mengapa swasta? Karena sudah pasti saya
akan gagal untuk masuk ke perguruan tinggi negri. Bersaing dengan
pelajar-pelajar diseluruh Indonesia yang kepintarannya melebihi saya. Ah,
biarkan saja mereka mengatai saya kalah sebelum berperang, saya tak akan pernah
peduli.
“Yah, Subuh diterima diperguruan
tinggi swasta di Solo. Subuh mengambil jurusan sastra, Yah.”
“Sastra?! Untuk apa merngambil
sastra, apa jadinya kamu kelak ha!? Guru! Hanya seorang Guru! Kau tahu itu!?”
jawab Ayah dengan nada tinggi. “Tidak! Ayah tidak akan setuju!”
“Nak, cobalah pikirkan lagi.
Benar apa kata Ayahmu. Ibu juga tidak akan setuju.”
Ada apa dengan mereka, pikiran
kolot, sama kolotnya dengan mereka. Memaksa saya mengikuti kemauan mereka.
Siapa yang sebenarnya akan melanjutkan sekolah? Saya atau mereka? Bukankah
pendidikan anak yang tepat itu dilihat dari bakat dan kemampuan si anak itu
sendiri? Orangtua hanya perlu membimbing, mengasa, dan memperdalam bakat si
anak tersebut. Bukan malam menyembunyikannya. Apa yang mereka lakukan?
”Subuh tetap ingin mengambil
sastra! Titik!”
“Baiklah. Biaya sendiri
keinginanmu itu!” suara Ayah semakin meninggi lalu beranjak begitu saja.
Setelah perdebatan, saya
memikirkan kata-kata yang diucapkanAyah. Darimana saya bisa membiayai sekolah
saya sendiri, jika hidup saja masih bergantung pada orangtua.
Beberapa hari ini kami tidak
saling bertegur sapa, tepatnya saya yang berdiam diri. Tak pernah makan
dirumah, selalu pulang malam, bertengkar dengan orang-orang rumah. Entah
kenapa, setiap saya marah pada Ayah, saya selalu meluapkannya pada Ibu. Hingga
suatu hari pertengkaran hebat pun terjadi pada kami berdua.
“Darimana kamu? Selalu pulang
malam akhir-akhir ini!”
“Bukan urusan Ibu.”
“Bukan urusanku katamu!? Aku ini
Ibumu!!”
Nada bicara Ibu semakin meninggi.
Kobaran api terpancar jelas dari kedua bola matanya.
“Sudah, aku capek. Aku mau
tidur.”
Setelah beberapa detik kata-kata
itu terlontar dari mulut saya, ada tangan yang tiba-tiba saja mendarat dipipi
saya dengan sangat keras. Ibu menampar saya, sebelumnya Ibu tak pernah seperti
itu.
“Dengar! Kamu hanya orangtua yang
gagal! Selalu membuat aku kecewa dengam semua yang ada! Siapa yang sebenarnya
akan melanjutkan sekolah!? Aku atau kau!? Dengar! Kadangkala, aku merasa kalo
kau seperti musuhku!”
Seketika saya menutup mulut saya
dengan kedua tangan. Apa yang telah saya katakan? Melukai hati Ibu, maafkan
saya Bu. Saya bisa melihat mata Ibu yang semula seperti kobaran api, kini mulai
berkaca-kaca. Ada sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.
“Maafkan Subuh, Bu. Subuh tidak
bermaksud membuat Ibu menangis. Maaf Ibu.” Ucap saya lirih sambil menundukan
kepala. Ada tetesan hujan yang semakin deras dari kedua kelopak mata saya. Sama
seperti mata Ibu, yang tengah hujan karena kekecewaan.
Sore itu saya mengajak Ibu
berkeliling dikawasan The Bay Bali.
Pantai adalah tempat favorit Ibu.
Senyumannya mengembang setiap kali saya mengajak Ibu ketempat ini, seperti ada
kekuatan magis yang membuatnya bahagia, sangat bahagia. Seperti tak ada luka
dihatinya. Saya sungguh menyesal karena pernah membuat Ibu menangis. Bagaimana
saya harus menganti tangis kekecewaan itu?
“Bu, maafkan Subuh. Subuh tidak
pernah berniat membuat Ibu menangis. Subuh sangat menyesal, Bu.” Ucap saya,
yang membangunkan Ibu dari lamunanya.
“Ibu sudah memaafkanmu, Nak. Ibu
tahu kau sedang emosi. Ibu mengerti keadaanmu.” Ibu tersenyum. “Ikuti apa mau
Ayah dan Ibu ya, Nak. Orangtua hanya ingin yang terbaik untuk masa depan
anak-anaknya.”
Saya hanya menganguk menjawab
perkataan Ibu. Kali ini saya harus menghilangkan ego saya sendiri, saya tak
ingin melihat ibu kecewa apalagi menangis.
Sebulan lebih sudah saya lewati
kesendirian saya, tanpa orangtua. Saya rindu mereka. Orang-orang yang terkadang
saya abaikan, ada namun saya katakan tiada. Mereka begitu berarti saat saya
jauh dari mereka. Apa selalu seperti itu? Baru menyadari betapa berartinya
seseorang dalam hidup kita ketika mereka menghilang atau menjauh. Mengapa saat
bersama semua terasa biasa-biasa saja? Saya lagi-lagi begitu menyesal, tak seharusnya
saya mengabaikan mereka selagi ada. Penyesalan memang selalu datang terakhir,
bukan?
“Nak, sudah makan?”
Pertanyaan pembuka yang selalu
sama setiap kali Ibu menelpon saya. Selalu ada kekhawatiran diujung telpon
sana, hal yang wajar bagi seorang Ibu.
“Sudah Bu” jawab saya.
Saya bercerita pada Ibu tentang
bagaimana saya menjalani hari-hari sulit saya selama di Solo. Bagaimana saya di
kampus, teman-teman baru saya, lingkungan sosial baru saya, pelajaran-pelajaran
hidup yang berharga, dan suka duka menjadi seorang perantau. Ibu adalah
sandaran terbaik bagi saya, Ibu selalu ada saat saya membutuhkannya.
Tidak terasa sudah setahun lebih
saya berpisah dengan orang-orang yang saya cintai. Saya mulai terbiasa untuk
melakukan segala sesuatunya sendiri. Sama seperti Ibu, wanita yang sangat saya
cintai. Saya terlalu disibukkan oleh tugas-tugas kuliah. Otak saya hampir pecah
karena pelajaran-pelajaran yang terlalu banyak menguras pikiran saya. Saya
mengambil jurusan Informatika, jurusan yang sebenarnya dikehendaki oleh
orangtua saya tepatnya. Benar, lowongan pekerjaannya sangat menjanjikan untuk
masa depan, tapi tetap saja saya tidak begitu tertarik. Saya lebih tertarik
untuk menulis dan membaca. Saya lebih mahir membuat sebuah cerpen dibanding
membuat sebuah program. Kenyataan yang bertolak belakang dengan cita-cita saya.
Saya lebih senang membelanjakan
uang bulanan saya untuk membeli buku-buku ketimbang pakaian, tas, sepatu,
seperti kebanyakan wanita lainnya. Setiap saya membeli buku baru, entah itu
satu, dua, atau lebih, muncul perasaan bahagia yang luar biasa dari hati saya.
Kau lihat? Kebahagian saya sesederhana itu.
Tugas-tugas kuliah dan kesibukan
kampus saya, tidak pernah berhasil mengalihkan saya dari cita-cita saya. Ya,
cita-cita menjadi seorang penulis. Saya masih sering membuat cerpen atau
sekedar kata-kata. Mem-postnya diblog pribadi saya. Tak jarang saya mengirimkan
karya saya ke redaksi surat kabar. Mungkin bukan rezeki saya, email cerpen yang
saya kirim tak pernah mendapat balasan. Saya akui, tulisan saya masih jauh dari
kata indah, masih sangat jauh. Saya pun bukan penulis fiksi yang baik. Saya
masih sering menyelipkan sedikit kisah hidup saya, tepatnya curhatan. Saya
masih harus banyak belajar.
Kesuksesan mulai menghampiri. Saya
masih sangat ingat, tepat hari senin, 15 November 2010. Saya mendapat email
dari sebuah penerbit ternama yang menawarkan saya membuat beberapa cerpen untuk
dibukukan. Sontak saya terkaget-kaget setengah kebinggungan. Bagaimana tidak,
tulisan saya tidak begitu menarik untuk dibaca. Kata-kata yang belum sempurna,
frase-frase yang masih berantakan. “Mungkin saya mampu?” batin saya.
“Kami tertarik dengan
cerpen-cerpen saudara. Kami membaca beberapa post-an saudara diblog pribadi
milik saudara. Kami rasa saudara memiliki bakat yang cemerlang.” Ucap seorang
karyawan penerbit ternama itu.
Saya pun menerima tawaran
tersebut. Bagaimana mungkin saya menolaknya, cita-cita saya sejak dulu. Yang
tak lama lagi akan segera terwujud.
Saya pikir menjadi seorang
penulis itu mudah, ternyata saya salah. Cerpen-cerpen saya mengalami banyak
revisi, berkali-kali. Terkadang timbul perasaan ingin menyerah. Saya mulai
putusasa. Ternyata tidak ada hal yang mudah seperti membalikan kedua telapak
tangan, semua butuh proses. Proses yang sangat panjang.
Akhir-akhir ini saya lebih sering
mengeluh karena cerpen-cerpen saya yang belum juga dibukukan. Saya bosan hanya
mendengar revisi disana sini. Cita-cita saya menjadi begitu sulit dicapai
ketika keputusasaan mulai menghinggap pada diri saya. Saya butuh semangat yang
mampu membuat saya bangkit kembali.
“Halo.”
“Iya nak. Bagaimana kuliahmu?
Sudah makan?”
“Baik. Sudah Bu” jawab saya
dengan nada suara yang sedikit lemas. Saya menceritakan kepada Ibu tentang
cita-cita yang menghampiri namun begitu sulit untuk saya raih.
“Itu adalah proses, nak. Jangan
cepat putusasa. Apa kau tak ingin membuat orangtuamu bangga? Berhenti ditengah
perjuangan tidak akan menjadikanmu sebagai seorang pemenang. Buktikan pada Ibu
dan Ayah, kalo kami salah mengabaikan bakatmu itu. Kesuksesanmu menjadi bukti
nyata bagi orang-orang yang pernah mengangapmu sebelah mata.”
Kata-kata yang mampu menghipnotis
saya untuk bangkit kembali. Alasan mengapa saya begitu menginginkan kesuksesan
adalah Ibu. Saya ingin membahagiakan Ibu.
Akhirnya masa-masa sulit saya
menuju kesuksesan terbayar sudah. Kumpulan cerpen-cerpen saya akhirnya
dibukukan, setelah melewati revisi berkali-kali. Betapa bahagianya saya.
Kebahagian yang saya hasilkan dari kedua tangan saya sendiri, hasil dari kerja
keras saya sendiri. Terima kasih, Tuhan.
Acara launching buku pertama saya
akan dimulai tepat pukul 13:00 disebuah Mall dibilangan Jakarta Selatan. Saya
tak menyangka, ternyata banyak masyarakat yang tertarik menghadiri acara
tersebut. Kejutan kecil dari Tuhan, yang lagi-lagi membuat saya begitu
bersyukur.
Pukul 13:00 acara pun dimulai.
Bangku-bangku telah terisi penuh. Tepat dibangku paling depan Ibu, Ayah, dan
kedua adik saya sudah duduk manis disana. Dari atas panggung saya melihat ada
tangis dimata Ibu saya. Kali ini bukan tangis kekecewaan, melainkan tangis
kebahagian. Ibu mengusap air matanya dengan saputangan coklat kesayangannya
sembari tersenyum kearah saya. Kebahagian yang begitu sederhana. Ketika kau
mampu membuat orang-orang yang kau cintai tersenyum bahagia, disitu kau akan
menemukan kepuasan batin yang begitu luar biasa. Dan saat itu juga, kau akan
sadar. Bahwa membahagiakan orang-orang yang kau cintai tidak selalu dengan
materi. Bahagia itu sederhana, kawan. Sesederhana saya yang melihat Ibu tersenyum
bahagia. Sesederhana saya yang mendapat buku baru. Dan sesederhana impian yang menjadi kenyataan.
Pukul 15:00 acara selesai. Saya
bergegas berlari kearah Ibu. Saya memeluknya erat, ada rindu yang ingin
diobati. Rindu yang tlah lama saya pendam, rindu yang terhalang oleh jarak dan
ruang.
Ibu membelai rambut saya,
kemudian memeluk saya kembali dengan air mata kebahagiaan.
“Ini kado terindah dalam hidup
Ibu. Biarkan Ibu menikmati masa tua dengan kesuksesanmu.”
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with www.thebaybali.com & Get discovered!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar