Sabtu, 12 April 2014

Kado Terindah untuk Ibu


Saya sangat mencintai beliau. Beliau mengandung saya selama 9 bulan, melahirkan saya kedunia dengan perjuangan yang bukan main, hidup dan mati pertaruhan perjuangannya. Tidak sampai itu, beliau membesarkan saya dengan penuh cinta, menanamkan ilmu agama sejak dini, mengajarkan hal-hal baik yang ada dimuka bumi ini. Beliau adalah Ibu saya. Wanita yang mulai rentan dimakan usia.
Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Nama saya, Subuh. Nama yang sedikit terdengar aneh, bukan? Ibu yang memberikan nama tersebut. Katanya, “Ibu menamaimu Subuh agar kau bisa menjadi pengantar kehidupan bagi banyak orang. Subuh yang begitu sejuk dengan tetesan embun yang jatuh dari langit”.
Ibu sangat mencintai anak-anak dan keluarganya. Ibu sosok wanita hebat dan kuat. Mampu menghadapi kejamnya dunia dengan kedua tangan dan kakinya sendiri. Ibu juga sosok wanita yang sangat mandiri, Ibu bukan wanita manja seperti kebanyakan wanita lainnya. “Jika bisa melakukannya seorang diri, mengapa harus meminta bantuan orang lain.” Begitulah prinsip hidup Ibu yang masih dipegang hingga detik ini.
Saat ini saya tengah duduk dibangku SMA, masa yang banyak dikatakan orang-orang sebagai masa yang takkan terlupakan. Mungkin benar yang dikatakan oleh banyak orang, di masa itu banyak kenangan yang tercipta dihidup saya. Entah diciptakan oleh sahabat-sahabat saya, mantan yang dulu sempat menjadi kekasih saya, atau musuh-musuh yang menguras sedikit emosi saya. Ah, masa-masa yang akan saya rindukan kelak.
“Ntar mau lanjut kemana, neng?”
Suara itu berhasil mengagetkan saya dan membangunkan saya dari lamunan. Pertanyaan itu muncul dari salah satu sahabat saya, Yani namanya.
“Entahlah, belum tahu. Belum kepikiran juga. Kalo kamu? Kemana?”
“Aku sih mau ngambil Universitas diluar Bali. Yogya target utamaku” jawabnya sambil tersenyum.
Wajar saja kami membicarakan akan lanjut kemana kami setelah kami tanggalkan seragam putih abu-abu kami. Tinggal menghitung beberapa bulan lagi. Ya… kami anak kelas 3 yang sedang menghadapi ujian sekolah.
Pembicaraan bersama Yani tadi membuat saya mulai berpikir, akan lanjut kemana saya nanti? Sebentar lagi, hanya tinggal hitungan bulan. “Bagaimana mungkin bisa keluar kota, sedang tak ada makanan saja saya masih sering marah. Apalagi nanti, jauh dari Ibu. Apa-apa harus sendiri” batin saya.
Jangan berpikir saya anak sholeh, yang selalu manut pada orangtua. Saya masih sering melawan  setiap perkataan Ibu dan Ayah, terutama Ibu. Saya masih sering membohongi mereka demi kesenangan saya sendiri. Saya masih sering membuat mereka kecewa. Saya selalu lebih keras saat beradu argument dengan Ibu, berbicara dengan nada tinggi, melawan setiap perkataan Ibu. Sungguh, saya masih jauh dari kata ‘Anak Sholeh’.
Beberapa bulan telah terlewat, ujian Nasional (UN) pun sudah saya lewati. Libur panjang sudah menunggu didepan mata. Beberapa sahabat-sahabat saya tengah sibuk mempersiapkan persyaratan-persyaratan yang diberikan perguruan tinggi yang mereka tuju masing-masing. Dan saya? Tentu saya masih sangat santai, saya tak ingin terlalu disibukkan dengan ini itu, kesana kemari, saya hanya ingin menikmatinya sedikit lebih lama.
Malam itu saya bersama Ibu dan Ayah. Kami duduk menikmati suasana malam yang cukup sejuk dengan teh hangat yang dibuatkan Ibu.
“Ayah, Subuh ingin melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi” ucap saya membuka pembicaraan kami.
“Mau lanjut kemana? Di Bali atau diluar Bali? tanya Ayah.
“Subuh belum tahu Ayah. Mungkin akan pilih diluar kota.”
“Kamu yakin, nak?” tanya Ibu.
“InsyaAlloh Subuh yakin, Bu. Subuh hanya ingin mandiri.”
Ibu dan Ayah hanya menatap saya. Ada keraguan disana, dimata mereka.
Setelah pembicaraan malam itu, saya pun mulai mencari informasi-informasi tentang beberapa perguruan tinggi swasta yang ada diseluruh Indonesia. Mengapa swasta? Karena sudah pasti saya akan gagal untuk masuk ke perguruan tinggi negri. Bersaing dengan pelajar-pelajar diseluruh Indonesia yang kepintarannya melebihi saya. Ah, biarkan saja mereka mengatai saya kalah sebelum berperang, saya tak akan pernah peduli.
“Yah, Subuh diterima diperguruan tinggi swasta di Solo. Subuh mengambil jurusan sastra, Yah.”
“Sastra?! Untuk apa merngambil sastra, apa jadinya kamu kelak ha!? Guru! Hanya seorang Guru! Kau tahu itu!?” jawab Ayah dengan nada tinggi. “Tidak! Ayah tidak akan setuju!”
“Nak, cobalah pikirkan lagi. Benar apa kata Ayahmu. Ibu juga tidak akan setuju.”
Ada apa dengan mereka, pikiran kolot, sama kolotnya dengan mereka. Memaksa saya mengikuti kemauan mereka. Siapa yang sebenarnya akan melanjutkan sekolah? Saya atau mereka? Bukankah pendidikan anak yang tepat itu dilihat dari bakat dan kemampuan si anak itu sendiri? Orangtua hanya perlu membimbing, mengasa, dan memperdalam bakat si anak tersebut. Bukan malam menyembunyikannya. Apa yang mereka lakukan?
”Subuh tetap ingin mengambil sastra! Titik!”
“Baiklah. Biaya sendiri keinginanmu itu!” suara Ayah semakin meninggi lalu beranjak begitu saja.
Setelah perdebatan, saya memikirkan kata-kata yang diucapkanAyah. Darimana saya bisa membiayai sekolah saya sendiri, jika hidup saja masih bergantung pada orangtua.

Beberapa hari ini kami tidak saling bertegur sapa, tepatnya saya yang berdiam diri. Tak pernah makan dirumah, selalu pulang malam, bertengkar dengan orang-orang rumah. Entah kenapa, setiap saya marah pada Ayah, saya selalu meluapkannya pada Ibu. Hingga suatu hari pertengkaran hebat pun terjadi pada kami berdua.
“Darimana kamu? Selalu pulang malam akhir-akhir ini!”
“Bukan urusan Ibu.”
“Bukan urusanku katamu!? Aku ini Ibumu!!”
Nada bicara Ibu semakin meninggi. Kobaran api terpancar jelas dari kedua bola matanya.
“Sudah, aku capek. Aku mau tidur.”
Setelah beberapa detik kata-kata itu terlontar dari mulut saya, ada tangan yang tiba-tiba saja mendarat dipipi saya dengan sangat keras. Ibu menampar saya, sebelumnya Ibu tak pernah seperti itu.
“Dengar! Kamu hanya orangtua yang gagal! Selalu membuat aku kecewa dengam semua yang ada! Siapa yang sebenarnya akan melanjutkan sekolah!? Aku atau kau!? Dengar! Kadangkala, aku merasa kalo kau seperti musuhku!”
Seketika saya menutup mulut saya dengan kedua tangan. Apa yang telah saya katakan? Melukai hati Ibu, maafkan saya Bu. Saya bisa melihat mata Ibu yang semula seperti kobaran api, kini mulai berkaca-kaca. Ada sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.
“Maafkan Subuh, Bu. Subuh tidak bermaksud membuat Ibu menangis. Maaf Ibu.” Ucap saya lirih sambil menundukan kepala. Ada tetesan hujan yang semakin deras dari kedua kelopak mata saya. Sama seperti mata Ibu, yang tengah hujan karena kekecewaan.

Sore itu saya mengajak Ibu berkeliling dikawasan The Bay Bali.

Pantai adalah tempat favorit Ibu. Senyumannya mengembang setiap kali saya mengajak Ibu ketempat ini, seperti ada kekuatan magis yang membuatnya bahagia, sangat bahagia. Seperti tak ada luka dihatinya. Saya sungguh menyesal karena pernah membuat Ibu menangis. Bagaimana saya harus menganti tangis kekecewaan itu?
“Bu, maafkan Subuh. Subuh tidak pernah berniat membuat Ibu menangis. Subuh sangat menyesal, Bu.” Ucap saya, yang membangunkan Ibu dari lamunanya.
“Ibu sudah memaafkanmu, Nak. Ibu tahu kau sedang emosi. Ibu mengerti keadaanmu.” Ibu tersenyum. “Ikuti apa mau Ayah dan Ibu ya, Nak. Orangtua hanya ingin yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya.”
Saya hanya menganguk menjawab perkataan Ibu. Kali ini saya harus menghilangkan ego saya sendiri, saya tak ingin melihat ibu kecewa apalagi menangis.

Sebulan lebih sudah saya lewati kesendirian saya, tanpa orangtua. Saya rindu mereka. Orang-orang yang terkadang saya abaikan, ada namun saya katakan tiada. Mereka begitu berarti saat saya jauh dari mereka. Apa selalu seperti itu? Baru menyadari betapa berartinya seseorang dalam hidup kita ketika mereka menghilang atau menjauh. Mengapa saat bersama semua terasa biasa-biasa saja? Saya lagi-lagi begitu menyesal, tak seharusnya saya mengabaikan mereka selagi ada. Penyesalan memang selalu datang terakhir, bukan?
“Nak, sudah makan?”
Pertanyaan pembuka yang selalu sama setiap kali Ibu menelpon saya. Selalu ada kekhawatiran diujung telpon sana, hal yang wajar bagi seorang Ibu.
“Sudah Bu” jawab saya.
Saya bercerita pada Ibu tentang bagaimana saya menjalani hari-hari sulit saya selama di Solo. Bagaimana saya di kampus, teman-teman baru saya, lingkungan sosial baru saya, pelajaran-pelajaran hidup yang berharga, dan suka duka menjadi seorang perantau. Ibu adalah sandaran terbaik bagi saya, Ibu selalu ada saat saya membutuhkannya.

Tidak terasa sudah setahun lebih saya berpisah dengan orang-orang yang saya cintai. Saya mulai terbiasa untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Sama seperti Ibu, wanita yang sangat saya cintai. Saya terlalu disibukkan oleh tugas-tugas kuliah. Otak saya hampir pecah karena pelajaran-pelajaran yang terlalu banyak menguras pikiran saya. Saya mengambil jurusan Informatika, jurusan yang sebenarnya dikehendaki oleh orangtua saya tepatnya. Benar, lowongan pekerjaannya sangat menjanjikan untuk masa depan, tapi tetap saja saya tidak begitu tertarik. Saya lebih tertarik untuk menulis dan membaca. Saya lebih mahir membuat sebuah cerpen dibanding membuat sebuah program. Kenyataan yang bertolak belakang dengan cita-cita saya.
Saya lebih senang membelanjakan uang bulanan saya untuk membeli buku-buku ketimbang pakaian, tas, sepatu, seperti kebanyakan wanita lainnya. Setiap saya membeli buku baru, entah itu satu, dua, atau lebih, muncul perasaan bahagia yang luar biasa dari hati saya. Kau lihat? Kebahagian saya sesederhana itu.
Tugas-tugas kuliah dan kesibukan kampus saya, tidak pernah berhasil mengalihkan saya dari cita-cita saya. Ya, cita-cita menjadi seorang penulis. Saya masih sering membuat cerpen atau sekedar kata-kata. Mem-postnya diblog pribadi saya. Tak jarang saya mengirimkan karya saya ke redaksi surat kabar. Mungkin bukan rezeki saya, email cerpen yang saya kirim tak pernah mendapat balasan. Saya akui, tulisan saya masih jauh dari kata indah, masih sangat jauh. Saya pun bukan penulis fiksi yang baik. Saya masih sering menyelipkan sedikit kisah hidup saya, tepatnya curhatan. Saya masih harus banyak belajar.

Kesuksesan mulai menghampiri. Saya masih sangat ingat, tepat hari senin, 15 November 2010. Saya mendapat email dari sebuah penerbit ternama yang menawarkan saya membuat beberapa cerpen untuk dibukukan. Sontak saya terkaget-kaget setengah kebinggungan. Bagaimana tidak, tulisan saya tidak begitu menarik untuk dibaca. Kata-kata yang belum sempurna, frase-frase yang masih berantakan. “Mungkin saya mampu?” batin saya.
“Kami tertarik dengan cerpen-cerpen saudara. Kami membaca beberapa post-an saudara diblog pribadi milik saudara. Kami rasa saudara memiliki bakat yang cemerlang.” Ucap seorang karyawan penerbit ternama itu.
Saya pun menerima tawaran tersebut. Bagaimana mungkin saya menolaknya, cita-cita saya sejak dulu. Yang tak lama lagi akan segera terwujud.
Saya pikir menjadi seorang penulis itu mudah, ternyata saya salah. Cerpen-cerpen saya mengalami banyak revisi, berkali-kali. Terkadang timbul perasaan ingin menyerah. Saya mulai putusasa. Ternyata tidak ada hal yang mudah seperti membalikan kedua telapak tangan, semua butuh proses. Proses yang sangat panjang.
Akhir-akhir ini saya lebih sering mengeluh karena cerpen-cerpen saya yang belum juga dibukukan. Saya bosan hanya mendengar revisi disana sini. Cita-cita saya menjadi begitu sulit dicapai ketika keputusasaan mulai menghinggap pada diri saya. Saya butuh semangat yang mampu membuat saya bangkit kembali.
“Halo.”
“Iya nak. Bagaimana kuliahmu? Sudah makan?”
“Baik. Sudah Bu” jawab saya dengan nada suara yang sedikit lemas. Saya menceritakan kepada Ibu tentang cita-cita yang menghampiri namun begitu sulit untuk saya raih.
“Itu adalah proses, nak. Jangan cepat putusasa. Apa kau tak ingin membuat orangtuamu bangga? Berhenti ditengah perjuangan tidak akan menjadikanmu sebagai seorang pemenang. Buktikan pada Ibu dan Ayah, kalo kami salah mengabaikan bakatmu itu. Kesuksesanmu menjadi bukti nyata bagi orang-orang yang pernah mengangapmu sebelah mata.”
Kata-kata yang mampu menghipnotis saya untuk bangkit kembali. Alasan mengapa saya begitu menginginkan kesuksesan adalah Ibu. Saya ingin membahagiakan Ibu.

Akhirnya masa-masa sulit saya menuju kesuksesan terbayar sudah. Kumpulan cerpen-cerpen saya akhirnya dibukukan, setelah melewati revisi berkali-kali. Betapa bahagianya saya. Kebahagian yang saya hasilkan dari kedua tangan saya sendiri, hasil dari kerja keras saya sendiri. Terima kasih, Tuhan.
Acara launching buku pertama saya akan dimulai tepat pukul 13:00 disebuah Mall dibilangan Jakarta Selatan. Saya tak menyangka, ternyata banyak masyarakat yang tertarik menghadiri acara tersebut. Kejutan kecil dari Tuhan, yang lagi-lagi membuat saya begitu bersyukur.
Pukul 13:00 acara pun dimulai. Bangku-bangku telah terisi penuh. Tepat dibangku paling depan Ibu, Ayah, dan kedua adik saya sudah duduk manis disana. Dari atas panggung saya melihat ada tangis dimata Ibu saya. Kali ini bukan tangis kekecewaan, melainkan tangis kebahagian. Ibu mengusap air matanya dengan saputangan coklat kesayangannya sembari tersenyum kearah saya. Kebahagian yang begitu sederhana. Ketika kau mampu membuat orang-orang yang kau cintai tersenyum bahagia, disitu kau akan menemukan kepuasan batin yang begitu luar biasa. Dan saat itu juga, kau akan sadar. Bahwa membahagiakan orang-orang yang kau cintai tidak selalu dengan materi. Bahagia itu sederhana, kawan. Sesederhana saya yang melihat Ibu tersenyum bahagia. Sesederhana saya yang mendapat buku baru.  Dan sesederhana impian yang menjadi kenyataan.
Pukul 15:00 acara selesai. Saya bergegas berlari kearah Ibu. Saya memeluknya erat, ada rindu yang ingin diobati. Rindu yang tlah lama saya pendam, rindu yang terhalang oleh jarak dan ruang.
Ibu membelai rambut saya, kemudian memeluk saya kembali dengan air mata kebahagiaan.
“Ini kado terindah dalam hidup Ibu. Biarkan Ibu menikmati masa tua dengan kesuksesanmu.”


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with  www.thebaybali.com & Get discovered!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar