Minggu, 27 April 2014

Terima Kasih




    Terima kasih karena pernah menggenggam tanganku dengan sangat erat.
    Terima kasih karena pernah menggenggam hatiku dengan sangat lembut.
    Terima kasih karena pernah menerbangkan anganku dengan sangat tinggi.
    Terima kasih karena pernah melukis hidupku dengan banyak warna.


    Terima kasih karena pernah menggenggam tanganku dengan sangat erat, walau pada akhirnya kau lepaskan. Kau menyerah. Akhirnya kau sadar, sesuatu yang berlebih tidaklah baik. Kau terlalu erat menggenggamku, karena kau takut pada kehilangan. Kau tak meneruskan segalanya, karena kau sadar hanya akan menyakitiku. Terima kasih karena telah menjadi seorang pengecut. Kau di mangsa oleh prasangkamu sendiri. Aku pikir, genggamanmu akan menemani langkahku hingga akhir, ternyata aku salah. Aku pikir, kau akan cukup dewasa mengambil tindakkan, ternyata aku salah. Jika alibi mu hanya karena terlalu erat menggenggam, mengapa tak kau coba menggenggamnya dengan biasa, agar tak menghilang? 

   Terima kasih karena pernah menggenggam hatiku dengan sangat lembut, walau pada akhirnya kau remukkan. Seperti sebuah guci. Kau begitu berhati-hati menjaganya, namun seketika kau pecahkan. Apa yang kau pikirkan? Kau tak akan pernah bisa membuatnya utuh kembali. Kalau pun kau mampu, akan nada cacat di setiap bagian. Kau ingin melihatku tertawa seketika menangis? Jika jawabannya iya, kau berhasil.

   Terima kasih karena pernah menerbangkan anganku dengan sangat tinggi, walau pada akhirnya kau hempaskan. Kau berkata hal-hal yang membuatku percaya bahwa aku adalah tujuan, lagi-lagi aku salah. Aku hanya sebuah persimpangan untuk langkahmu. Kau berkata seolah-olah semua nyata adanya, lagi-lagi aku salah. Aku belum cukup pintar membedakan mana yang dikatakan nyata dan mana yag dikatakan semu. Aku terlalu buta saat jatuh cinta.

    Terima kasih karena pernah melukis hidupku dengan banyak warna, walau pada akhirnya kau hitamkan. Kau memilih menghitamkan segala yang berwarna karena dari awal, aku bukanlah masa depan yang ingin kau tuju. Pelangi-pelangi itu kini berubah menjadi mendung, sekali lagi, kau berhasil. Membuat segala yang baik menjadi buruk. Membuat segala impian menjadi angan. Membuat segala tawa menjadi duka. Dan membuat segala rasa mejadi hambar. Terima kasih.